Lately I realized that it just only takes one simple way to be content... apapun kondisi yang lagi kita jalanin...
Termasuk
Sebosen apapun...
Se-blank apapun...
The word is, "Just be grateful"
Be grateful for who you are, coz you are His beloved child... and you are always in His mind
Be grateful for your existence, coz the fact that you're created means God needs you to make His big puzzle of plan completed.
Be grateful for every little thing... every daily and usual thing (yang biasanya terluput dari kesadaran kita karena kita udah terlalu terbiasa dengan berkat-berkat itu).
a little note for this one... if you know the way people live in another "world" (in a poor country, in a war situation, in areas where there are still no electricity or good watering system, etc), you will know that you are soooo blessed...
Be grateful for people (even if just one) who care enough to smile, say hi to you, encourage you, listen to what you say, ask "how are you", compliment you, and make you laugh...
Learn to be grateful require us to go through another learning process... Learn to pay attention and remember even the smallest thing to be grateful of...
and I'm in that process ^.^
PS: thanx to a friend (you know who you are hehehe... someone yang lagi di perantauan juga ;-p) yang ngingetin satu hal lagi buat disyukurin hehehe... it motivates me each day since... ^.^
Kursus Online Internet Marketing
Read this first...
Latar Belakang
Oma Emi lahir di kota Makasar pada tahun 1941. Papanya adalah seorang tentara Belanda (KNIL), sehingga mereka sering berpindah-pindah kota. Dia memiliki 9 saudara perempuan dan 3 saudara lelaki. Tahun 1951 mereka sekeluarga pindah ke Jawa tepatnya di kota Sukabumi. Namun tidak tinggal begitu lama di kota tersebut karena Papanya pensiun. Mereka pindah ke Cimahi.
Menikah, Namun Ditinggalkan Suami
Di kota inilah Oma Emi bertemu dengan seorang pria Sangir yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka menikah di Jakarta sebab pria tersebut tinggal di Jakarta. Suaminya merupakan seorang tentara, sama seperti Papanya. Saat itu, bisa dikatakan bahwa hidup Oma Emi serba berkecukupan dan bahagia. Sebagai seorang tentara angkatan laut, suami Oma Emi sering berlayar. Ternyata Oma Emi harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya bertemu dengan wanita lain saat sedang berlayar dan pergi meninggalkan dia bersama ketujuh anaknya yang masih kecil-kecil pada tahun 1972.
Perjuangan Sebagai Single Parent
Pada tahun 1987, salah seorang anaknya meninggal karena sakit. Kehidupan Jakarta yang begitu keras dengan 6 orang anak yang harus dirawat bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani seorang Oma Emi. Dia hanya bisa berserah pada Tuhan. Apa saja yang bisa dilakukan, seperti berjualan ke pasar, membuat dan menjual kue, dilakukan oleh Oma Emi demi menghidupi anak-anaknya. Puji Tuhan, meskipun mereka hidup miskin, namun semua anak-anak saya mengecap jenjang pendidikan sampai SMEA. Mereka mendapat sponsor dari Texas, America untuk biaya pendidikan.
Diusir Dari Rumah Peninggalan Papanya
Dulunya mereka tinggal di sebuah rumah yang masih layak, merupakan peninggalan dari Papa Oma Emi. Namun sewaktu Papanya meninggal, saudara-saudara lelakinya menuntut agar rumah tersebut dijual. Sebenarnya mereka sempat bertahan, namun akhirnya menyerah sebab adik-adik lelakinya melempari rumah bahkan memukuli saudara-saudara perempuan dalam keluarga tersebut ketika rumah tersebut belum dijual.
Pada tahun, 1992 rumah tersebut dijual dan Oma Emi hanya diberi uang sebesar 1 juta rupiah. Dia membawa anak-anaknya pindah ke daerah kalibaru. Mereka mengontrak sebuah rumah di sana dan dibiayai oleh salah seorang anaknya yang menjadi tulang punggung keluarga mereka saat itu, bernama Aris.
Aris, Tulang Punggung Keluarga Mengalami Kecelakaan
Aris bekerja sebagai kuli angkat di Pelabuhan. Meskipun hanya sebagai kuli, dia mampu menghidupi kami saat itu. Namun, pada tahun 2000 Aris menikah sehingga Oma Emi tidak bisa tinggal lagi bersama mereka. Sejak saat itulah Oma Emi tinggal di pemukiman kumuh bersama seorang anak lelakinya yang menderita penyakit polio (Nelson). Pada 13 Februari 2002, musibah terjadi. Aris mengalami kecelakaan saat bekerja. Aris jatuh dari kapal dengan ketinggian 20 meter saat sedang mengangkat barang. Akibat kejadian tersebut, ada saraf pada pinggulnya yang mati, mengakibatkan tubuh bagian pinggang ke bawah menjadi mati rasa.
Penderitaannya ditambah lagi dengan istrinya pergi meninggalkannya bersama seorang anaknya yang masih sangat kecil. Sejak kejadian tersebut, otomatis dia tidak bisa lagi bekerja sehingga Oma Emi membawa mereka tinggal di rumahnya dan mengurus Aris dan anaknya yang masih bayi. Selama seminggu Aris berteriak-teriak kesakitan di rumah. Oma Emi tidak membawanya ke RS karena dia tidak mempunyai uang sama sekali. Hanya Tuhan lah tempatnya mengadu.
Dibebaskan Dari Semua Biaya RS
Ternyata Tuhan menjawab doanya. Ada seseorang yang dengan baik hati memberikan uang 50 ribu dan langsung digunakan oleh Oma Emi sebagai ongkos Taxi untuk membawa Aris ke RS Cipto. Saat itu dia tidak memikirkan biaya pengobatan di RS. Dia percaya bahwa Tuhan pasti bukakan jalan.
Selama 3 bulan Aris dirawat di RS Cipto. RS Cipto berdekatan dengan Gereja Tiberias Menteng Prada, sehingga setiap minggu Oma Emi mengikuti Ibadah dan mengambil anggur perjamuan dan minyak urapan untuk Aris. Oma Emi senantiasa berdoa pada Tuhan agar Aris diberi kesembuhan, umur yang panjang serta pertolongan bagi mereka dalam pembayaran biaya RS. Aris menjalani operasi pada kakinya yang meghabiskan biaya sekitar 15 juta. Kalau dipikir dengan akal sehat, Oma Emi tidak akan sanggup membayar biaya tersebut, namun Tuhan sangat baik sehingga RS membebaskan kami dari semua biaya.
Aris diperbolehkan pulang ke rumah tanpa membayar biaya apapun. Mereka tidak mengerti apakah ada orang yang berbaik hati untuk membayar, namun mereka percaya bahwa itu semua adalah campur tangan Tuhan. Bahkan mereka pulang ke rumah diantarkan dengan Ambulance tanpa harus membayar (Saat itu biaya ambulance adalah sekitar 25 ribu rupiah).
Sekarang, Aris hanya bisa duduk dan tidur seharian di tempat tidurnya selama 6 tahun. Karena bagian tubuh pinggang ke bawah sudah mati rasa, dia harus senantiasa memakai kateter sebab dia tidak dapat merasakan apabila dia mau buang air kecil ataupun buang air besar. Dia tidak marah pada Tuhan dengan segala kondisi hidupnya. Baginya ini adalah cara Tuhan untuk membawanya kembali pada Tuhan setelah sekian lama dia meninggalkan Tuhan dan hidup dalam keduniawian.
Hidup Di Rumah Kumuh Yang Sangat Tidak Layak
Saat ini Oma Emi menumpang di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah yang berada di rawa-rawa tersebut hanya terdiri dari satu ruangan saja. Di rumah yang kecil dan tidak layak tersebut, Oma bersama dua anak dan 3 cucunya menjalani bekerja, memasak, makan, tidur, dll.
Setiap hari sepanjang tahun, rumah tersebut digenangi oleh air sekitar sejengkal tangan. Jika sedang tidak hujan, air di rumah Oma akan mencapai sejengkal. Namun jika hujan, akan mencapai lutut. Bahkan saat banjir 5 tahunan, mencapai leher orang dewasa. Banyak sekali nyamuk beterbangan baik siang maupun malam. Puji Tuhan mereka masih baik-baik saja sampai saat ini karena sebenarnya lingkungan tersebut sangat rawan akan penyakit.
Ada tiga buah tempat tidur kayu di setiap pojok ruangan. Oma tidur bersama cucunya yang bernama Fernando (Cucu dari anak pertama, kelas 5 SD). Aris tidur bersama anak perempuannya yang sekarang sudah kelas 5 SD juga. Demikian juga dengan Wilson, tidur bersama anak laki-lakinya yang bernama Nike.
Oma Bekerja Sebagai Pemulung
Untuk kehidupan sehari-hari, Oma bekerja sebagai pemulung. Setiap hari Oma berangkat pukul 6 pagi dan selesai memulung kira-kira pukul 12. Hasil pulungan itu dijual, lalu uangnya dipakai untuk membeli beras untuk makanan mereka hari itu. Uang yang dikumpulkan oleh Oma dan Nelson sehari-hari adalah sekitar 15-20 ribu. Oma juga memulung sayuran, cabai dan bawang dari sampah Carefour untuk dimasak di rumah. Untungnya meski makan dari sampah, mereka sehat-sehat saja sampai sekarang.
Air Bersih dan Listrik
Air bersih yang mereka gunakan sehari-hari berasal dari tetangga, yang mereka beli seharga 7 ribu per drum. Mereka mengirit penggunaannya hanya untuk memasak dan diminum. Untuk mandi, mereka menggunakan air sumur yang disaring. Listrik yang mereka gunakan juga dipinjam dari tetangga dan mereka harus membayar 40 ribu setiap bulannya.
Nelson. Meski Cacat Tetap Optimis
Untungnya, Nelson dengan keterbatasan kakinya yang cacat, tidak menyerah pada kenyataan. Keterampilan menjahit yang pernah diperolehnya di lembaga pelatihan Depnaker digunakannya untuk membuat celana, baju dan keterampilan lainnya seperti tas, dll.
Oma memiliki sebuah mesin jahit tua dan sebuah gereja pernah memberikan sebuah mesin obras ketika mereka meminta Nelson untuk membuat beberapa seragam anak-anak TK. Dengan modal mesin jahit tua dan mesin obras inilah dia berkreasi dan menghasilkan sedikit uang untuk biaya kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya dijual pada masyarakat sekitar dan dijual door to door. Sebuah celana anak-anak dijual seharga 15 ribu rupiah. Namun ada juga hari-hari dimana mereka tidak mendapat uang sama sekali. Nelson cacat karena karena mengalami polio saat duduk di bangku kelas 3 SD, yang menyebabkan salah satu kakinya tidak bertumbuh.
Bagi Nelson, dia tentu saja pernah kecewa dengan Tuhan. Kehidupan mewah di rumah gedung di daerah Matraman masih senantiasa terbayang di benaknya. Baru 2 tahun belakangan ini dia kembali pada Tuhan dan kembali rajin beribadah. Dulunya dia tidak percaya pada Tuhan sebab menurutnya Tuhan tidak peduli pada kehidupan keluarganya yang sangat memprihatinkan. Untungnya Nelson sempat mengecap bangku SMEA dan mengikuti pelatihan di BLK (Balai Latihan Kerja) dari Depnaker.
Keterampilan menjahit dan memasak itulah yang menjadi modalnya untuk bertahan hidup. Saat ini, keterampilan menjahit itulah yang digunakannya untuk membuat celana, baju dan tas dari bahan bekas yang dipulung dari pembuangan sampah sebuah pabrik kain di daerah tanjung priuk. Masa paling sakit dalam kehidupannya adalah saat-saat dia menjadi pemulung di KBN. Dia kerap mendapat cemohan dan hinaan dari orang-orang. Setiap hari mengorek-ngorek sampah agar mendapatkan sesuatu yang bisa dijual. Istrinya meninggalkannya segera setelah dia melahirkan anaknya yang saat itu berbobot hanya 1 kg saja. Sampai saat ini, dia tidak tahu istrinya ada dimana.
Nelson juga pintar memasak, bertukang kayu dan batu. Terkadang, ada juga tetangga yang memanggilnya untuk membuat WC atau rumah. Sebelumnya dia sempat bekerja di catering cukup lama. Namun karena pemiliknya suka bermain togel, dia bangkrut sehingga Nelson pun kehilangan pekerjaan.
Oma Emi Tetap Mengucap Syukur Pada Tuhan
Terkadang Oma Emi kecewa pada Tuhan dan bertanya pada Tuhan mengapa hidupnya selalu penuh dengan penyakit dan kemiskinan. Namun, Oma senantiasa sadar bahwa ada maksud Tuhan untuk setiap kejadian di dalam hidupnya, sehingga dia pun kembali mampu untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya dan keluarganya. Semakin Oma mempelajari Firman Tuhan, semakin dia tahu bahwa Tuhan penuh kasih dan setia. Oma rajin doa puasa dan juga beribadah. Dalam keadaan serba kekurangan dan menyedihkan, mereka selalu memberi waktu untk beribadah kepada Tuhan. Bahkan Aris yang lumpuh senantiasa dijemput dan digendong oleh pengerja gereja agar dapat beribadah setiap minggunya.
Oma Pernah Bercita-cita Menjadi Pilot
Dulu sewaktu masih kecil, mama dari Oma Emi selalu berkata, “[i]You have to be a Pilot[/i].” Itu sebabnya jika ditanyakan soal cita-cita, Oma selalu berkata, “[i]I want to be a Pilot[/i].” Tapi nasib berkata lain sebab setelah papanya pensiun, Oma tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Dulunya Oma sekolah di Regina Pacis, Bogor. Itu sebabnya Oma cukup fasih berbahasa Inggris, sebab bahasa Inggris adalah bahasa pengantar di sekolah.
Saat Paling Sedih Dalam Hidup Oma
Saat paling sedih dalam kehidupan Oma adalah pada saat salah seorang anaknya meninggal karena TBC. Yang paling membuat Oma sedih adalah karena dia tidak mampu berbuat apa-apa sebab tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan sehingga anaknya meninggal. Demikian juga saat salah satu cucunya dari anak pertama yang tinggal bersamanya menderita kanker kulit, dia tidak dapat berbuat apa-apa sehingga cucunya tersebut juga meninggal. Jangankan untuk ke RS, makan saja mereka kesusahan.
Saat Terindah Dalam Hidup Oma
Saat terindah dalam kehidupan Oma adalah saat dia masih hidup bersama suaminya. Suaminya yang bekerja sebagai seorang tentara dan sering berlayar bahkan sampai ke luar negeri memiliki penghasilan yang cukup sehingga mereka bisa hidup mewah. Mereka bahkan sempat merasakan naik mobil mewah jika bepergian. Meskipun anak-anaknya masih kecil-kecil saat itu, namun mereka masih ingat kenangan hidup serba berkecukupan itu. Suami Oma baru meninggal pada tahun 2007. Suami Oma masih beberapa kali berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Oma Hanya Pernah Liburan Sekali Seumur Hidup
Semenjak ditinggal oleh suaminya, baru sekali Oma memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan. Oma mendapat kesempatan jalan-jalan gratis ke Ciater dari gereja.
Tetap Optimis Menjalani Hidup
Oma, Nelson dan Aris tetap optimis dalam menjalani hidup. Harapan mereka adalah agar cucu-cucu Oma menjadi orang yang sukses nantinya. Seperti Fernando yang suka pelajaran matematika. Mereka sungguh yakin akan pemeliharaan Tuhan, terbukti dengan uluran tangan dari orang-orang yang senantiasa ada seperti sumbangan rice cooker dan kompor gas yang sangat bermanfaat bagi mereka.
Ibu Amir adalah seorang yang cukup berjasa dalam kehidupan Oma. Tahun 2007, Fernando harus dirawat di RS karena sakit hepatitis B. Ibu Amirlah yang dengan baik hati membayar semua biaya RS. Anak-anak Oma yang lain datang beberapa kali untuk memberi beras atau uang. Namun tidak seberapa sebab mereka juga hidup pas-pas an meski tidak seprihatin Oma.
Oma rajin merawat tanaman di depan rumah dan nantinya dijual seharga 5-15 ribu. Lumayan untuk menambah pemasukan sehari-hari.
Ada kabar santer bahwa pertengahan tahun ini, lingkungan rumah Oma akan digusur untuk pembangunan jalan tol.
Harapan Oma adalah agar mereka bisa hidup layak dan tidak harus menumpang di rumah orang lain serta tidak perlu mengorek-ngorek sampah agar bisa makan.
Keterangan
Selama interview berlangsung, Oma dan Pak Nelson senantiasa menangis dan sesekali tertawa jika mengingat masa-masa indah hidup mereka. Namun dari pembicaraan tersebut, terlihat optimisme mereka dalam hidup. Penyerahan diri dan pengharapan mereka pada Tuhan menjadi kekuatan mereka dalam menyikapi setiap kondisi.
Mau lihat video pendek hasil liputannya? Silahkan klik homepage (halaman cover) forum jawaban.com di sini.
Maukah anda menolong Oma Emi dan keluarganya?
Kita bisa bergabung bersama memberi bantuan kepada keluarga Oma Emi dan juga yang lainnya, melalui program Jawaban Kasih dan juga Life Squad. Tujuan dari program ini adalah agar dengan cara yang kreatif kita bisa membantu mereka mempunyai kehidupan yang lebih layak. Bantuan yang kita berikan ibarat kail, jadi kita memperlengkapi mereka untuk bisa mandiri dan tidak terus menerus tergantung pada bantuan orang lain.
Orang-orang yang dibantu oleh Jawaban Kasih dan Life Squad adalah mereka yang dipastikan para pekerja keras yang kurang beruntung, jadi bukan orang-orang malas.
Info lebih lengkap anda bisa langsung masuk ke forum Jawaban Kasih di sini dan membaca profil dan foto mereka masing-masing, cara memberi donasi, serta penjelasan tentang Jawaban Kasih 'n Life Squad.
He gave me this parable not so long ago… Bahwa dalam kehidupan kita, Dia yang gambar sketsa ‘n kita yang ngewarnain sketsa itu.
Mazmur 139:16, “MataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun daripadanya.”
RancanganNya itu seperti sketsa hidup kita, an original drawing. Seperti dibilang bahwa kita ini rekan kerjaNya, it means ada bagian Dia ‘n juga bagian kita. Bagian kita adalah mewarnai sketsa itu.
The amazing thing is this… As we all know that we are flawed human. Sepanjang perjalanan kita bersamaNya, we make mistakes, we make false decissions, sometimes we fall, and sometimes we have to live or take the consequences of other’s mistake… Kadang warna yang kita sapukan di sketsa itu gelap dan abstrak, kadang warna-warna cerah, kadang merah menyala, kadang hijau yang nyaman di mata, kadang abu-abu ga jelas, kadang hitam pekat… kita semua pernah melalui saat-saat yang bermacam-macam, dengan ketakutan, keberanian, kepahitan, pengampunan, kemarahan, kesedihan, tawa, keraguan, kepastian, pemikiran dan perasaan yang bermacam-macam. Tapi entah bagaimana setelah lukisan itu selesai, it’s just beautiful… Isn’t that really magical and totally cool?
Kayak yang dibilang di Pengkotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Seringkali kita merasa kita bukannya ga percaya ama Dia, tapi kita ga percaya ama diri kita sendiri. But the truth is, we doubt Him. Coz kalo kita kenal Dia, kita pasti tau bahwa kalo kita lagi ga punya kekuatan, saat kita minta, Dia bakal kasih kekuatanNya ‘n memampukan kita. Kalo kita lagi clueless, saat kita minta, Dia pasti nunjukin arah yang bener. He loves us and want to bless us with His best blessings! He is our Source for everything we need...
Do you trust Him enough to make a beautiful and colourful drawing of your life?
Beberapa hari lalu aku sempet mikir tentang beberapa hal… ‘n malemnya pas aku baca alkitab, Dia langsung jawab, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan gemetar karena mereka, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau , Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; Janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul 31:6,8).
Itu firman yang sama yang Dia kasih ke aku sebelum aku pergi ke Lippo Cikarang (kalo mau tau kisah selengkapnya maybe perlu ngebongkar blog ini mulai postingan awal-awal hehehe…) ‘n itu langsung bikin pikiranku speechless, coz udah terbukti selama 3 tahun lebih ini ‘n emang menjawab semua pemikiranku ‘n ketakutanku sebelumnya. He who walks in front of me, will open the doors for me ‘n walk with me, so I can fulfill His purposes upon me. I don’t know what would I be without You God…
Then, kemaren lusa ‘n kemaren, waktu aku sempet ngerasa rada mellow… and my cravings for real communication with real people ‘n real touches… (secara Jumat-Sabtu aku kerja sendirian di kantor ‘n juga sendirian di kos sampe hari ini coz yang laen pada pulang) Dia ngehibur aku… Jumat malem sepulang dari kejar setoran di kantor, ada kucing kecil tiba-tiba nongol di halaman kos, kayak nyambut aku gitu… Trus aku panggil ‘n dia ngikutin aku duduk di kursi teras depan. Aku rada lama duduk-duduk di sana, ngelus-ngelus dia sambil telponan ama temenku. It’s very nice to feel real touches hehehe… kucingnya lucu, ekornya panjang trus ujungnya rada mlungker (ngerti mlungker ga? Hihihi…), warna kuning… mirip Miky waktu masih kecil. Trus dia sempet duduk di pangkuanku… so comfortable… sampe satu kecoa terbang memisahkan kami… I know why I always hate kecoa T_T Jadi gara-gara kecoa yang awalnya cuman ngerayap rada jauh di depan kita itu tiba-tiba terbang, aku ‘n kucing itu sama-sama shock… kucingnya lari ke luar, aku buru-buru buka pintu ‘n masuk ke dalem kos, ‘n ga berani keluar lagi hehehehe… T_T padahal masih pengen ngelus-elus kucing T_T secara jarang banget nemu kucing yang jinak ‘n manis gitu T_T I hate kecoaaaaa…
Oiya back to the topic hehehe… Ya sweet aja… Jumat malem Dia ngehibur aku ama kucing itu (sampe sekarang aku ga pernah ketemu tu kucing lagi… Hhh… “Pousy cat, where are you? I miss you… If you read this blog, please come back to my kos will ya?” hihihi…) Trus kemaren, Sabtu malem, pulang kos aku baca bukunya Pak Pati Ginting (“Segala Sesuatu Ada Dasarnya” bagus tu buku, simple ‘n ada pengalaman-pengalaman real-nya Pak Pati Ginting), ada ayat Ibrani 11 yang tentang iman. Aku jadi baca alkitab NIV (baru beli alkitab bahasa inggris NIV, lumayan buat ngebiasain diri ama bahasa inggris hehehe…) ‘n juga alkitab indonesianya. Yang paling klik di aku itu yang ayat 3, “By faith we understand that the universe was formed at God’s command, so that what is seen was not made out of what was visible” (NIV)
Bukannya aku ga pernah baca versi indonesianya, tapi gatau kenapa berasa kayak baru ngeh ‘n nyambung aja pas baca versi NIV-nya… Bahwa Dia bisa (‘n emang udah pernah) menciptakan sesuatu (anything!) dari tidak ada menjadi ada, dari yang ga keliatan wujudnya jadi keliatan. Bukan cuman memodifikasi atau menjadikan sesuatu dari bahan-bahan mentah menjadi barang jadi, tapi bener-bener menciptakan yang ada dari yang ga ada! We absolutely can trust Him for that! Cara Tuhan menangani berbagai macam situasi juga berbeda-beda… dan salah satunya ini, Dia menciptakan sesuatu dari yang ga ada jadi ada, it’s possible… Aku rada ga ngerti persis ayat ini nyambungnya ke pemikiranku yang tentang apa, tapi yang aku rasa tu ayat ini ngena ke aku… Well, maybe in my journey ahead I will understand this… Yang jelas itu makin nguatin aku. Thank You God for reminding me this…
Pagi ini, aku sempet inget tentang bersyukur… Kalo pernah baca postinganku sebelumnya (yang ini), yah sejak itu aku terus berusaha memfokuskan diri buat ngeliat positive things in almost everything… walo kadang-kadang masih lengah ‘n kepeleset hehehe… but I’m just going forward to see the good things… in my situation and in people… Ternyata emang efeknya gede… Dulu aku ga bisa bersyukur atas kondisiku di Lippo Cikarang, kecuali dalam hal kerjaan (coz in kerjaan aku banget hehehe). Aku ngeluh mulai dari soal ga ada temen, ga ada komunitas yang cocok, kos yang sempit ‘n pengap, keluarga yang jauh, makanan yang mahal ‘n ga enak, pokoknya semua selaen kerjaan. Tapi sejak interupsiNya ‘n sejak aku mutusin buat belajar ngeliat hal-hal yang baek, akhirnya hal-hal yang lebih baek dateng, justru di saat aku udah ngerasa puas ‘n cukup dengan semua yang aku jalani. Temen-temen cewek di IT yang nyambung (keadaannya bener-bener dibalik, dulu aku cewek sendiri ‘n yang laen cowok, sekarang cewek 4 orang termasuk aku, jadi rame ‘n enak hehehe…), kos baru yang enak banget, temen baru, hal-hal baru… Ada siy keadaan yang ga jauh berubah, tapi aku masih tetep belajar buat see the good things ‘n percaya bahwa kalo Dia ijinin ini terjadi, ya berarti aku masih dalam proses di area ini, atau emang ini adalah satu masa yang kudu aku manfaatin bener-bener coz ini cuman sementara ‘n ada masa berikutnya dimana aku mungkin udah ga bisa lagi ngelakuin apa yang bisa aku lakuin di masa ini.
And believe it or not… if we learn to be grateful ‘n set our eyes on the good things in one area, we will begin to see the good things in other areas ‘n also be grateful for them…
Mungkin selama ini kita kurang bersyukur atas keluarga kita, atas orang tua ‘n sodara, atau atas kerjaan, whatever you name it… Maybe keadaan kita saat ini sebenarnya bukan keadaan ideal yang kita pengen… But we need to understand that, sometimes it’s not about the thing or the person, but it’s about our point of view. Ada keadaan yang ga berubah dari dulu waktu aku masih ga bisa bersyukur sampe sekarang, tapi sekarang aku ngeliatnya udah beda… and it’s real… But the difference is, ada hal-hal tertentu yang menunggu kita untuk bisa bersyukur atas mereka sebelum God bisa replace them ‘n memberikan hal-hal yang lebih baik pada kita. They are just things that God used as a part of our process, our character building.
Kalo kita ga bisa bersyukur atas seseorang atau beberapa orang dalam hidup kita, sebenarnya yang rugi kita sendiri… Coz kita ga bisa ngeliat ‘n mencapai tujuan God menempatkan orang itu dalam hidup kita. Besides, if we never learn to see and be grateful for the good things in a person, we will never be close enough with anyone, coz no one can be so close and be vulnerable if we keep give them critics and unsatisfactions. We need to remember that all of us, each of us, are flawed human. We have strengths and weaknesses. Yes, it’s true that we are shaped by Him to be perfect like Him, but as long as we are still in this world, we are not perfect yet… our life is a complete journey of building and shaping process. Inilah tujuan kenapa God ngelarang kita saling menghakimi ‘n nyuruh kita periksa diri kita sendiri dulu sebelum kita menuding orang lain. Karna Dia tau kalo sebenernya posisi kita sama, sama-sama manusia yang melakukan kesalahan ‘n punya kelemahan (walau kesalahan ‘n kelemahan itu ada di area yang berbeda-beda buat setiap orang), yang masih dalam proses untuk terus disempurnakan.
The amazing thing is… I’m still amazed at how He can love us and keep loving us continuously with our flaws… Sebenernya kan jauh lebih sulit bagi Seseorang yang bener-bener sempurna untuk menerima orang lain yang ga sempurna… Tapi kenyataan yang terjadi, kita justru lebih sulit buat menerima orang lain yang sama-sama ga sempurnanya kayak kita… That’s a little tragic I guess… and I’m one of them too… I’m not saying this with proud, but with hope and continuous struggle to do the right thing…
So, are we on the same side? Let’s keep move on to do better ‘n be better!!!
Jiayouuuuu….!!!
